Lenyap

Selasa, 08 Januari 2013

Semua orang yang lahir di dunia ini mempunyai garis takdir masing-masing. Mempunyai hidup masing-masing, mempunyai rasa, kasa, dan asa masing-masing. Manusia diberkati oleh sejuta warna, yang kesemuanya akan menyusun jalan yang ditentukan oleh sendirinya. Manusia… manusia yang diberi duka adalah manusia yang berbeda dari yang lainnya, manusia yang kuat , dan manusia yang mampu memiliki sejuta warna. Walaupun duka menyelimuti tapi tetap mampu bertahan, mampu menopang dan mampu berjalan. Terkadang terhempas tapi tetap mampu bernafas, apa yang aku dapatkan adalah kesemuanya untuk menyusun warna kehidupan. Aku tetap bertahan walau badai telah datang. Walau aku tak cukup kuat tapi aku mencoba untuk selalu kuat, aku berhasil, sedikit demi sedikit aku berhasil merangkak menuju cahayaku, walau terkesan gelap pada jalanya aku berusaha meraba. Tak ada siapapun, tak ada tangan yang mengulur padaku, aku ingin, tapi terkadang itu hanya memberi duka. Aku,,, betapapun indah dunia ini, aku belum merasa, tapi jikalau dunia ini perih, maka aku sudah berlumuran olehnya. Tuhan… Kapan aku mencapai cahayamu, kadang aku berfikir ingin kembali ke pangkuanMu. Tuhan… Kau memberikan begitu banyak pelajaran, tapi terkadang aku kesulitan untuk mendapatkan, terkadang aku tertatih Tuhan…
Tuhan, jikalau mimpiku terlalu tinggi maka sadarkanlah aku. Tapi jikalau aku mampu meraihnya maka dekatkanlah mimpi itu padaku.
Aku berjalan terseok seok menelusuri ribaanku, melihat menderap pada langit yang biru, merasa pahit lalu kumatikan rasa itu. Aku begitu bermuram durja, tiap mengingat hakikatku tak ubahnya seorang fakir. Aku mengerti semua ini, tapi aku terkadang juga tak kuat menerima semua ini. Jika aku menjadi lentera senja, akan ku tautkan matahari dan bulan. Akan ku kibaskan lamunan yang fana, lalu ku buang ke dalam sebuah jurang perpisahan.
Mentari terkadang menukik tajam, bagai bidadari yang hilang dari ribaan. Menjalani sebuah proses menuju ke jurang kematian. Hidup menukik dalam ke sebuah nestapa yang agung, lalu sesosok bayang muncul tenggelam.
Duka  lara seakan menjadi sepasang kekasih yang selalu bersemayam dalam hatiku, yang mengalir dalam darahku, yang bernafas bersamaku. Aku berterima kasih, karena ia telah mengajariku berbagai hal dalam hidupku. Aku berterima kasih karena ia telah mengajariku berbagai macam sakit dalam hidupku, aku berterima kasih karena ia telah mengajariku bertahan. Aku mampu karena aku manusia tempaanmu. Tapi aku juga rapuh ketika engkau mulai memakan impian dan harapanku. Duka lara, biarkan aku meraihnya , biarkan aku meraih mimpiku, ketika aku sudah meraih mimpiku dan aku sudah memenuhi janjiku pada orang-orang di sekitarku. Engkau boleh kembali padaku, dan engkaupun ku ijinkan melenyapkanku… 

2 comments:

  1. Dheariyan mengatakan...:

    مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ

  1. Symphony mengatakan...:

    Ashobru yu'minu :-D

Posting Komentar