Semua orang yang
lahir di dunia ini mempunyai garis takdir masing-masing. Mempunyai hidup
masing-masing, mempunyai rasa, kasa, dan asa masing-masing. Manusia diberkati
oleh sejuta warna, yang kesemuanya akan menyusun jalan yang ditentukan oleh
sendirinya. Manusia… manusia yang diberi duka adalah manusia yang berbeda dari
yang lainnya, manusia yang kuat , dan manusia yang mampu memiliki sejuta warna. Walaupun
duka menyelimuti tapi tetap mampu bertahan, mampu menopang dan mampu berjalan. Terkadang
terhempas tapi tetap mampu bernafas, apa yang aku dapatkan adalah kesemuanya
untuk menyusun warna kehidupan. Aku tetap bertahan walau badai telah datang. Walau
aku tak cukup kuat tapi aku mencoba untuk selalu kuat, aku berhasil, sedikit
demi sedikit aku berhasil merangkak menuju cahayaku, walau terkesan gelap pada
jalanya aku berusaha meraba. Tak ada siapapun, tak ada tangan yang mengulur
padaku, aku ingin, tapi terkadang itu hanya memberi duka. Aku,,, betapapun
indah dunia ini, aku belum merasa, tapi jikalau dunia ini perih, maka aku sudah
berlumuran olehnya. Tuhan… Kapan aku mencapai cahayamu, kadang aku berfikir
ingin kembali ke pangkuanMu. Tuhan… Kau memberikan begitu banyak pelajaran,
tapi terkadang aku kesulitan untuk mendapatkan, terkadang aku tertatih Tuhan…
Tuhan, jikalau
mimpiku terlalu tinggi maka sadarkanlah aku. Tapi jikalau aku mampu meraihnya
maka dekatkanlah mimpi itu padaku.
Aku berjalan
terseok seok menelusuri ribaanku, melihat menderap pada langit yang biru,
merasa pahit lalu kumatikan rasa itu. Aku begitu bermuram durja, tiap mengingat
hakikatku tak ubahnya seorang fakir. Aku mengerti semua ini, tapi aku terkadang
juga tak kuat menerima semua ini. Jika aku menjadi lentera senja, akan ku
tautkan matahari dan bulan. Akan ku kibaskan lamunan yang fana, lalu ku buang
ke dalam sebuah jurang perpisahan.
Mentari
terkadang menukik tajam, bagai bidadari yang hilang dari ribaan. Menjalani
sebuah proses menuju ke jurang kematian. Hidup menukik dalam ke sebuah nestapa
yang agung, lalu sesosok bayang muncul tenggelam.
Duka lara seakan menjadi sepasang kekasih yang
selalu bersemayam dalam hatiku, yang mengalir dalam darahku, yang bernafas
bersamaku. Aku berterima kasih, karena ia telah mengajariku berbagai hal dalam
hidupku. Aku berterima kasih karena ia telah mengajariku berbagai macam sakit
dalam hidupku, aku berterima kasih karena ia telah mengajariku bertahan. Aku
mampu karena aku manusia tempaanmu. Tapi aku juga rapuh ketika engkau mulai
memakan impian dan harapanku. Duka lara, biarkan aku meraihnya , biarkan aku
meraih mimpiku, ketika aku sudah meraih mimpiku dan aku sudah memenuhi janjiku
pada orang-orang di sekitarku. Engkau boleh kembali padaku, dan engkaupun ku
ijinkan melenyapkanku…
مَنْ صَبَرَ ظَفِرَ