Khilaf

Sabtu, 21 Januari 2012
Aku ingin bercerita tentang salah satu ke khilafanku sore ini. Dimulai dari lidahku yang ingin merasakan sesuatu yang disebut makanan maka keluarlah ajakan pada ibu ku untuk membeli macaroni. Aku memang menyukai macaroni  dibanding makanan kriuk-kriuk lainya, macaroni itu enak di lidahku, mungkin raasanya seperti steak no 1 buatan chef no 1 pula. Sore ini mendung aku khawatir akan hujan, aku mulai bimbang akan membeli macaroni itu atau tidak. Tapi ibu ku menghapuskan kebimbanganku, karena beliau berkata “ memang mendung, tapi kan ga hujan “ dengan keluarnya argumen itu maka aku langsung bangkit dari kursi busa peyot yang sudah dirajai oleh tikus-tikus kejam itu tiap malamnya. Ku keluarkan sepeda motor ku, lalu ku hidupkan, tak lama kemudian hp ku bergetar tepat di kantong celana sebelah kanan hingga getaran itu sampai pada pahaku, dan membuatku tersadar ternyata ada telepon. Kutatap hp dalam-dalam, teryata kakak yang menelepon. Ku pencet tombol berwarna hijau yang berarti telepon itu di angkat. Ketika ibu ku tau bahwa itu telepon dari kakak ku maka dengan cekatan ibu ku mengambil alih kendali sepeda motor dariku. Lalu kami berangkat untuk membeli macaroni , dengan posisi ibu menjadi jongki dan aku menjadi penumpang. Sebenarnya hal ini membuatku bertambah risau, jika ibuku menjadi jongki maka butuhlah waktu yang amat banyak untuk sampai ketempat warung penjual macaroni, jika kebanyakan orang membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai, maka ibu ku membutuhkan waktu 2x lipat lebih banyak dari pada waktu biasanya. Sambil bercuap-cuap ria di telepon sebenarnya aku sangat resah, resah akan nasibku nanti, pulang dengan keadaan basah kuyub atau dengan wajah merdeka yang menenteng 1/4 kg macaroni tersayang.
Tapi memang hasil akhir ditentukan Yang Di Atas. Kami pulang dengan keadaan seperti tikus kecemplung got, basah kuyub. Walaupun perjalanan pulang bukan lagi ibuku yang menjongki, tapi tetap saja aku tak mampu bersahutan dengan hujan yang Ia beri. Sesampainya dirumah aku memutuskan untuk langsung mengakhiri keterpurukanku dengan mandi. Dan mulai dari sinilah ke khilafan itu dimulai. Aku mandi dengan santainya, seperti biasa, padahal terdapat beberapa hal yang berbeda dari biasanya. Biasanya aku memakai sabun batangan untuk mandi, tapi untuk kali ini berbeda, aku mandi dengan sabun cair yang di bawa kakaku kemarin, katakana saja sisa kakaku kemarin. Memang aku katrok atau ndeso atau yang lain sebagainya tapi aku benar-benar khilaf, ku pencet botol sabun mandi itu dan ku arahkan ke telapak tanganku, bermaksud agar sabun itu keluar pada tempat yang benar. Sabun itu adalah sabun mandi yang seharusnya di pakai pada bagian tubuh tapi dengan oonya kuusapkan sabun itu pada kepalaku dan kurasakan sensasi yang berbeda, terasa lebih ngefek dan terasa lebih berbusa, lebih berbusa dari biasanya dan akupun merasa menemukan kejanggalan. Ternyata yang kupakai di kepalaku itu adalah sabun mandi cair. Kini yang kurasakan akibat kekhilafanku itu adalah rasa gatal yang sangat pada kulit kepalaku, walaupun sudah ku bilas dengan air dan ku cuci lagi dengan shampo tetap saja terasa gatal sungguh.
Dari kejadian sore ini maka kusimpulkan bahwasanya “Aku berusaha untuk tidak memakai sabun mandi cair!”

0 comments:

Posting Komentar